Kasus Pembunuhan Dijadikan Lelucon?

http://wartakota.tribunnews.com/2019/01/25/pria-di-tangerang-bunuh-diri-minum-arsenik-sempat-kirim-foto-sebelum-akhiri-hidup

Kronikamel, Jakarta - Pria di Tanggerang Bunuh Diri Minum Arsenik, Sempat Kirim Foto Sebelum Akhiri Hidup. Bagi para pengguna sosial media tentunya akan menerima banyak informasi secara berangsur-angsur dalam hitungan detik, terlebih lagi informasi-informasi terkait kehidupan seseorang yang mungkin saja menurut kalian tidak terlalu penting atau bahkan sangat penting. Lalu apa hubungannya kasus ini dengan sebuah jokes?

Manusia itu makhluk sosial, tentunya membutuhkan orang lain untuk berkembang, menumbuhkan rasa perduli, mencintai atau sekedar bersenda gurau. Hidup dari zaman dulu hingga kini memang sama saja, tapi kian kesini kehidupan sosial makin berbeda dan malah terperosok.

Kehidupan sosial kini membuat manusia banyak kehilangan akalnya, walaupun banyak pemeluk agama yang bertebaran namun faktanya; berapa banyak yang dapat realistis dari "agama"? Terkadang, banyak oknum yang bersembunyi dibalik kata "agama" untuk menyuarakan "kemanusiaan". Contohnya seperti ini;
"Ga deket sama Tuhan si lo, makanya jadi kayak gitu."
Naasnya, itu bukan sebuah solusi.

Hal tersebut dapat digariskan terjadi karena di era reformasi terbuka ini, masalah sosial makin pelik, dan jarang ada manusia yang bisa solutif. Sedikit orang yang mempunyai simpati atau bahkan empati, yang pada akhirnya menimbulkan kehilangan kepercayaan antarmanusia juga.

Kehilangan kepercayaan antarmanusia dari sisi sosial dan religi ini lah yang menjadikan awal mula kenapa orang bisa dengan mudah triggered untuk suicide.



Seperti hal-nya pada kasus ini, dugaan depresi menjadikan suicide menjadi solusi. Mungkin ketika seseorang memiliki masalah yang menurut kalian adalah hal yang biasa saja, nyatanya adalah sebaliknya. Dan ketika mereka bercerita hanyalah ledekan, ejekan, cacian dan tidak ada satupun solusi yang diterima, jalan ini lah yang mereka pilih.

Mereka tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan, karena sekitarnya pun tidak ada yang peduli. Dengan kondisi mentally unstable seperti ini, seharusnya mereka mendapatkan sebuah dukungan agar mereka dapat kembali kuat. Namun Indonesia kini? Ah, miris.

Dengan tersiarnya kasus suicide tersebut, banyak yang memposting ke sosial medianya dengan judul yang beragam dan rasa-nya pun beragam. Namun, ada beberapa postingan yang dilakukan di sosial media mendapatkan respon yang cukup membuat meringis;

 


Indonesia dengan kemajuan teknologinya yang semakin pesat, namun membuat rasa kemanusiaan manusianya kian terperosok. Begitu banyak lembaga pendidikan serta tokoh agama kini, namun nyatanya masih sangat kurang untuk membangun sebuah empati dikalangan masyarakat yang hanya memanfaatkan sosial media sebagai kesenangan "bercandaan" belaka.

Terlebih lagi dengan kasus ini, banyaknya manusia yang masih belum bisa menjadi situasional atau tepat dalam bertutur kata. Tiada yang bisa disalahkan memang, selain diri mereka sendiri. Atau mungkin kata ini cocok bagi mereka yang masih menganggap kasus ini sebagai bahan "bercandaan";
"Teruntuk kalian yang merasa kasus suicide sebagai bahan jokes, ada baiknya kalian rasakan dulu menjadi mereka, agar kalian tahu bagimana rasanya benar-benar menjadi manusia." -saya
Mungkin kalian akan sadar kelak, bahwasanya permasalahan yang tertumpuk serta rasa sepi yang menjalar menjadi sebuah kalut dapat menimbulkan depresi yang berlebihan. Bukalah sedikit ruang di telinga dan mulut kalian untuk sekedar mengurangi peluh mereka yang memikul beban. Jika memang kalian bukan sosok yang solutif, jadikan lah diri kalian sebagai sandaran ketenangan.

Komentar

Postingan Populer